Search

Berdiri Kokoh, Masjid Besar Banjaran Saksi Peninggalan Raden Gandakusuma

Keberagaman dari bangunan masjid di Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Termasuk masjid Banjaran yang ada di Bandung. Yang memiliki kisah unik dan sejarah di dalamnya. Hal ini diungkapkan langsung oleh Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Besar Banjaran Iman Hilman, bahwa keberadaan masjid ini untuk merangkul seluruh kegiatan Islami yang ada di sekitarnya. Mulai dari pengajian, majelis taklim, pendidikan keagamaan, dan lainnya. Dipakai sebagai pusat kegiatan keislaman.

Pendidikan keagamaan tetap menjadi perhatian bagi pengurus Masjid Besar Banjaran. Sebab, lewat pendidikan itulah, syiar Islam dapat terus ditransfer ke generasi mendatang.

Masjid besar Banjaran sudah didirikan pada zaman penjajahan Belanda, yakni sekitar awal tahun 1900-an. Dahulu, bahan bangunan masjid setengahnya adalah kayu. Interior kayu terletak pada tiang-tiangnya yang totalnya berjumlah 32. Setelah bertahun-tahun, pada sekitar 1980-an, barulah masjid besar Banjaran ini mulai dipugar.

Baca Juga:  Wisata Religi Paling Populer di Madura

Semua lapisan masjid kini menjadi berbahan semen dan pasir. Awalnya masjid ini disebut sebagai Kaum Banjaran. Sebutan ini karena ketika itu sebutan masjid memang biasa disebut dengan istilah Kaum. Saat itu, istilah Kaum sering digunakan sebagai tempat untuk berakad nikah.

Saat itu juga, di wilayah Kabupaten Bandung, tiap alun-alun memang terdapat masjid. Misalnya, di alun-alun Soreang, di sebelahnya, terdapat masjid besar. Menurut Iman, konsep tersebut sudah dibikin oleh pihak penjajah Belanda.Konsep desain lokasi pembangunan masjid dibuat sedemikian rupa agar berdekatan dengan taman yang biasanya memang selalu dipenuhi keramaian.

Lahan masjid saat itu merupakan pemberian wakaf dari Raden Gandakusuma, seorang tokoh besar di Kabupaten Bandung ketika itu. “Tadinya ini tanah wakaf. Dari orang Banjaran asli,” ujar dia.

Baca Juga:  Berkunjung ke Pulau Seribu Masjid Lombok, Banyak Jejak Peninggalan Sultan Lombok

Pemberian wakaf itu untuk dibangun masjid. “Dulu belum begini bangunannya. Dulu disebut Kaum Banjaran,” tambah dia.

Saat itu, di depan masjid terdapat kulah atau bak besar yang digunakan untuk berwudu. “Baru pada 1980-an direnovasi seperti ini,” ujar dia.

Akibat pembangunan Masjid Besar Banjaran ini, syiar Islam pun menjadi berkembang. Banyak masyarakat yang beraktifitas di masjid tersebut. Apalagi, keberadaan masjid berdampingan dengan alun-alun. “Dulu, keberadaan alun-alun itu identik dengan keberadaan masjid,” kata Iman.

Luas lahan masjid besar ini sekitar 50 x 50 meter persegi. Sedangkan luas bangunannya sekitar 30 x 25 meter. Saat ini, ada rencana untuk melakukan pemugaran Masjid Besar Banjaran. Pemugaran ini untuk memodernkan desain masjid. Selain itu, nantinya bangunan masjid akan menjadi dua tingkat.

Baca Juga:  Wisata Ziarah dan Berdoa di Makam Nyai Ageng Pinatih Gresik

“Pengurus juga sudah merencanakannya. Sudah dibuat persetujuan dari para tokok-tokoh masyarakat terutama para ulama. Nantinya akan dua tingkat. Modelnya agak maju dan modern,” pungkasnya.

Boks

Keberadaan Masjid Besar Banjaran sangat vital bagi masyarakat sekitarnya. Beberapa warga ada yang menggantungkan hidupnya lewat berdagang di masjid yang berlokasi di Kaum Tengah, Rt 04 Rw 02 Desa Banjaran Kulon Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung ini.

Lokasi masjid ini cukup strategis dan selalu ramai. Di sebelah alun-alun Banjaran, warga sekitar banyak beraktifitas di sekitaran masjid. Mulai dari kegiatan ekonomi sampai sosial.

Terkini

Kiai Bertutur

E-Harian AULA